Saput Poleng

Beringin ''Mesaput Poleng''

Di Bali, hampir setiap sudut mata memandang kain ''poleng'' ada di mana-mana. Baik di depan rumah, di pura, ataupun di pinggir-pinggir jalan. Penggunaan kain poleng juga kita jumpai di beberapa benda, misalnya untuk tedung (payung), umbul-umbul, palinggih (tugu), patung, kulkul (kentongan) dan sebagainya. Tidak hanya benda seni sakral, bahkan pohon pun dililit dengan kain poleng.

Banyak orang berpikir secara kasat mata bahwa pohon besar disarungin dengan motif ''poleng'' atau kotak-kotak dengan warna hitam dan putih seringkali mengundang beragam persepsi. Ada yang berpikir pohon besar itu banyak penunggunya, ada juga beranggapan bahwa tumbuhan yang diberi saput poleng memiliki kekuatan-kekuatan gaib atau niskala. Para tetua Bali juga sering menyebut, bahwa hitam dan putih adalah cerminan dua warna yang melambangkan baik-buruk, positif-negatif, dan segala sesuatu yang berlawanan, berdampingan, serta manifestasi dari keseimbangan alam semesta. Lalu bagaimana jika ditinjau dari sisi logis?

Sesungguhnya, pohon besar diberi ''saput poleng'' seperti pohon beringin merupakan satu kearifan budaya Bali yang tidak lepas dari falsafah ajaran hidup pelestarian keanekaragaman budaya dan lingkungan. Bijaknya orang Bali dulu menciptakan konsep yang seperti ini telah memberikan manfaat besar terutama ditengah perubahan globalisasi dan homogenisasi saat ini.

Diluar yang berhubungan dengan falsafah, pohon beringin merupakan salah satu pohon yang berjasa untuk kehidupan manusia karena pohon beringin merupakan salah satu pohon yang bisa menyimpan cadangan air terbesar di antara ribuan jenis pohon lainnya. Sangat lama untuk manusia bisa menumbuhkan hingga memiliki ukuran yang sangat besar, butuh puluhan mungkin ratusan tahun, tetapi hanya butuh waktu dalam satu hari untuk menebangnya.

Dengan kearifan lokal Bali dimana pohon-pohon besar disarungi dengan kain kotak-kotak bertujuan agar manusia tidak dengan mudah menumbangkanya atau memotongnya. Ilmu Botani juga menyatakan, bahwa semakin besar dan lama usia pohon itu, maka kegunaan dan manfaatnya pun menjadi lebih besar. Berikut adalah contoh keunggulan pohon beringin : 
• Mudah tumbuh dikondisi tanah apapun
• Mempunyai akar yang kuat dan tidak mudah tumbang.
• Tumbuh dengan cepat dan tahan akan gangguan hama.
• Tidak memerlukan perawatan yang intensif
• Berumur panjang sampai ratusan tahunpun jarang tumbang
• Merupakan salah satu pohon langka yang dimiliki Indonesia
• Pohon dengan evapotranspirasi

Diluar keunggulan diatas, pohon beringin juga memiliki khasiat penyembuh penyakit menurut beberapa penelitian. Akar dan daun beringin memiliki khasiat untuk mengatasi pilek, demam tinggi, radang amandel, nyeri pada sendi, rematik dan luka memar. Sedangkan daun dari pohon beringin memiliki khasiat untuk menyembuhkan influenza, radang pernafasan atau bronkitis, batuk rejan atau pertusis, malaria, radang usus atau enteritis, desentri dan kejang panas pada anak.

Jadi kalau kita pahami dengan benar, bahwa kepercayaan lama dengan adanya tumbuhan beringin, apalagi beringin yang gede merupakan tempat mahkluk-mahkluk halus berumah, akan lebih bijak kalau memandang dari sisi medis serta manfaat nyata yang diberikan. Sebagai kesimpulan, budaya menyarungi pohon besar dengan kain kotak-kotak merupakan cara orang Bali untuk menandai, melindungi dan menghormati tanaman itu bahwa ia telah berjasa telah memberikan manfaat yang begitu besar bagi kehidupan.

Artikel Menarik Lainnya


15/06/2020
filosofi hujan

FILOSOFI HUJAN Tatanan Hidup Baru Sesuai Kehendak Alam

Kita sering melihat dan menyaksikan hujan turun, namun kita lupa untuk membaca pesan kosmis yang dikirm melalui hujan, semoga tulisan ini dapat menjadi teman dalam merenung
Selengkapnya
15/04/2020
Layang-layang

Layangan From Wholeness To Wellness

Keutuhan Tubuh, Nafas dan Pikiran merupakan tahap pertama dalam memahami keutuhan-wholeness. Menghayati keutuhan merupakan kendaraan mencapai kesehatan optimal-wellness
Selengkapnya
1/03/2020
Bali Era Baru

BALI ERA BARU; Manusia Lama dengan Paradigma Baru

Bali Era Baru lahir dari manusia dengan paradigma baru. Bali Era Baru adalah Bali yang menghormati semua warna sebagai bagian dari kebhinekaan
Selengkapnya
27/04/2019
Beyond Wayang

Filosofi Tersembunyi dari Tumpek Wayang

Tumpek wayang dirayakan 2010 hari sekali, tepat di hari Saniscara Kliwon Uku Wayang
Selengkapnya
11/04/2020
ragana setengah

Manusia Setengah dan Lima Metode Olah Diri Menjadi Manusia Paripurna

Manusia setengah merupakan sebuah metafora untuk menggambarkan manusia yang menyukai pengakuan, pecicilan menunjukkan kemampuan, haus pujian dengan berbagau upaya
Selengkapnya
7/04/2019
Filosofi Di Balik Gerakan Tari Rejang

Filosofi Di Balik Gerakan Tari Rejang

Tari adalah bentuk ekspresi estetika manusia, yang terbentuk dari dinamika budaya lokal yang mengiringinya.
Selengkapnya